Jumat, 17 Juni 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke 24 modul 3.3 Calon Guru Penggerak

Tanpa terasa, perjalanan pendidikan Calon Guru Penggerak sudah pada tahap akhir di modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid. Dengan berakhirnya modul ini, maka pembelajaran CGP melalui LMS sudah berakhir dan akan dilanjutkan dengan tugas tugas lain yang akan didampingi oleh Pengajar Praktik. sungguh luar biasa pengalaman yang kami dapatkan dari proses awal sampai akhir modul ini. Tentu saja ilmu dan pengalaman tersebut harus kami jadikan bekal untuk melangkah lebih percaya diri dalam mendampingi anak didik di sekolah. 

Minggu ini, saya melakukan pembelajaran bersama rekan CGP dalam ruang kolaborasi, refleksi terbimbing, dan demonstrasi kotekstual. Berikut ini jurnal refleksi minggu ke-24 yang saya susun dengan menggunakan Model Segitiga Refleksi.



Segitiga atas ⟮cokelat)

Akhirnya saya mampumembuat rancangan program yang mengembangkan kepemimpinan murid, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset yang dimiliki oleh sekolah.

Segitiga kanan bawah ⟮kuning)

Saya semakin antusias, termotivasi, dan memiliki keyakinan bahwa sebuah program yang mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid akan berdampak pada pengembangan potensi murid menjadi pelajar Pancasila.

Segitiga kiri bawah ⟮hijau)

Saya memahami bahwa penyusunan program sekolah harus mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid, serta memperhatikan karakteristik lingkungan yang menumbuhkan kepemimpinan murid.

Segitiga tengah ⟮putih)

Target saya setelah pembelajaran minggu ini adalah mengaitkan pengetahuan yang didapat dengan modul lain dan melakukan aksi nyata program sekolah yang berdampak pada murid.

Demikian jurnal refleksi saya pada minggu ke-24, semoga bermanfaat dan dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. salam guru penggerak !

(Tri Budi Astuti, CGP Angkatan 4 Kab. Magetan)

Senin, 13 Juni 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke-23 Modul 3.3. Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid



Pada minggu ke 23 ini CGP hampir menuntaskan semua modul dalam LMS. Jurnal refleksi di minggu ini penulis akan merefleksi menggunakan Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C). Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Berikut adalah deskripsi jurnal refleksi minggu 23 menerapkan model 4C:

Connection

Sudah kita ketahui bersama bahwa guru penggerak memiliki beberapa peran diantaranya adalah menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya, menjadi pengajar praktik bagi rekan guru terkait pembelajaran di sekolah, mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah, dan menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah. Semua peran tersebut sangat relevan dengan modul 3.3 tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid.



Guru penggerak yang berperan menggerakkan guru lain untuk membuat komunitas belajar yang saling berkolaborasi dalam menyusun sebuah program yang berdampak pada murid. Program yang berdampak pada murid menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka. Hal ini sejalan dengan pemikiran KHD bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Program yang disusun dapat diterapkan dengan tahapan BAGJA dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA)

Challenge

Yang menantang bagi saya adalah melakukan perubahan dengan melaksanakan aksi nyata dengan membuat program yang mempertimbangkan aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid dalam menumbuh kembangkan kepemimpinan murid untuk menumbuhkan karekter Profil Pelajar Pancasila. Dalam melaksanakan program tersebut saya akan melibatkan komunitas dan memetakan kekuatan aset yang dimiliki agar dapat tercapai secara optimal.

 Concept

Dalam melaksanakan program yang berdampak pada murid diperlukan dukungan-dukungan agar dapat terlaksana. Sumber dukungan yang dibutuhkan adalah lingkungan yang menumbuhkan kembangkan kepemimpinan murid dan peran keterlibatan komunitas dalam menumbuh kembangkan kepemimpinan murid. Sebagaimana padi yang hanya akan tumbuh subur pada lingkungan yang sesuai, maka program/kegiatan sekolah yang berdampak pada murid dan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid pun akan tumbuh dengan lebih subur jika sekolah dapat menyediakan lingkungan yang cocok. Komunitas adalah bentuk dari aset sosial yang dimiliki sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program/kegiatan pembelajaran di sekolah, yang terdiri dari murid, guru, orang tua, orang dewasa lain yang ada di sekitar murid, dan masyarakat atau lingkungan sekitar, yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses belajar murid.

Change

Dengan tahapan BAGJA pada program yang berdampak pada murid dan melibatkan komunitas maka program akan dapat berjalan sesuai rencana.

Tahapan BAGJA

B-uat Pertanyaan Utama

Pertanyaan Utama ini digunakan sebagai penentu arah penelurusan terkait perubahan yang kita inginkan.

A-mbil Pelajaran

Langkah ini dapat dilakukan setelah pertanyaan utama disepakati. Bagian ini akan menuntun mengambil pelajaran dari pengalaman individu atau kelompok baik dalam unsur yang berbeda maupun sama.

Gali Mimpi

Langkah selanjutnya dalah gali mimpi bersama. Pada tahapan ini komunitas sekolah (Kepala Sekolah, Guru, Siswa) akan menggali mimpi sebagai keadaan ideal yang diinginkan dengan digambarkan secara rinci melalui sebuah narasi dan diperlukan pertanyaan-pertanyaan pemandu dalam penyusunan narasi,

Jabarkan Rencana

Tahapan ini akan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan dan mengambil keputusan-keputusan. Ketika perencanaan awal kita perlu membuat pertanyaan-pertanyaan untuk membantu penyusunan rencana agar lebih konkret,

Atur Eksekusi

Tahapan ini membantu transformasi rencana menjadi nyata. Diperlukan pertanyaan2 yang dapat membantu memutuskan peran dan kesepakatan-kesepakatan pelaksanaan.

Demikian jurnal refleksi minggu ini yang dapat saya jabarkan, semoga bermanfaat dalam melaksanakan program yang berdampak pada murid. Terima kasih.

(Tri Budi Astuti, CGP Angkatan 4 Kabupaten Magetan)

 Minggu ini telah menginjak pada minggu ke-22, perjalanan Pendidikan Guru Pengerak Angkatan 4 telah hampir sampai di ujung paket Modul 3. 

Berikut ini Jurnal Refleksi Minggu Ke-22 yang saya susun dengan model 6 topi ⟮Six Thinking Hats).




Topi biru ⟮process)

Dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan sumber daya yang ada dan menggunakan pendekatan berbasis aset, saya dapat membuat perubahan pembelajaran di lingkup kelas dengan mengoptimalkan pemanfaatan aset-aset sekolah.

Topi hijau ⟮creativity)

Saya akan lebih sering mengeksplorasi aset yang ada, berdiskusi dengan murid, rekan sejawat, dan kepala sekolah. Saya akan mengoptimalkan pemanfaatan modal yang ada untuk membuat perubahan pembelajaran.

Topi putih ⟮fact)

Elaborasi Pemahaman Modul 3.2 bersama instruktur, membuat rancangan aksi nyata dalam Koneksi Antar Materi yang akan dilaksanakan dalam lingkup kelas, berdiskusi tentang hambatan strategi dalam melaksanakan Aksi Nyata.

Topi kuning ⟮benefits)

Saya memandang sesuatu dari sudut pandang pendekatan berbasis aset, sehingga yang nampak adalah kekuatan/ kelebihan rekan dan murid, potensi, modal, dan sumber daya sekolah dan lingkungan yang siap diberdayakan untuk mewujudkan sekolah ramah anak, murid merdeka, dan optimalisasi potensi murid.

Topi merah ⟮feelings)

Saya merasa antusias belajar dan tertarik untuk menerapkan materi Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya di lingkungan sekolah saya.

Topi hitam ⟮cautions)

Menghadapi rekan dengan karakter yang beragam dan tidak semua senang perubahan, yaitu dengan menunjukkan aksi nyata pembelajaran yang berpihak pada murid.

Semangat!

Bergerak, Tergerak dan Menggerakkan!

Jurnal Refleksi 3.2.a.10.2

 Jurnal Refleksi 3.2.a.10.2

Jurnal Refleksi - Minggu 21 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Perjalanan Pendidikan Calon Guru Penggerak sudah semakin jauh dan semakin menarik dengan materi yang sangat luar biasa. Pada minggu ke-21 ini saya menggunakan model 4C ⟮Connection, challenge, concept, change) untuk menjabarkan pengalaman saya mempelajari materi Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

Connection

Dalam minggu kedua mempelajari modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, bahwa  untuk menjadi pemimpin pembelajaran, saya harus menggunakan pendekatan berbasis aset, yaitu mengoptimalkan aset yang dimiliki sekolah untuk mengembangkan potensi murid. Saya terus mempelajari mengenai paradigma berpikir memandang potensi/aset sumber daya yang dimiliki oleh sekolah. 

Disini saya sebagai seorang CGP, diajarkan bagaimana cara mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh daerah tempat tinggal saya dan kebermanfaatannya bagi sekolah berkaitan dengan kekuatan/potensi yang dimiliki sekolah. Dalam mengembangkan ekosistem sekolah tentunya memiliki hambatan dan tantangan, maka kita perlu untuk melatih cara berpikir untuk berpikir positif menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan dengan melihat potensi yang dimiliki oleh sekolah. 

Dengan bersikap optimis, memandang peluang ditengah masalah yang dihadapi, bukan hanya cenderung pada masalah namun tetap melihat kekuatan yang dimiliki oleh sekolah dalam mengembangkan sekolah berbasis aset. Agar dapat menjadi coach bagi guru lain dan menjalin kolaborasi antar guru, idealnya melihat kelebihan setiap guru yang bisa dikembangkan untuk saling melengkapi dengan guru lain, sehingga visi memerdekakan belajar murid bisa dilaksanakan. Dengan melihat kelebihan, potensi, dan bakat murid, saya akan mampu mendorong murid menjadi mandiri dan mampu menjadi pemimpin.



Challenge

Dalam modul 3.2 ini materi yang disajikan sangat menarik dan menambah saya dalam memahami potensi sekolah dengan berbasis aset/kekuatan di  sekolah. Selama ini, dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan lainnya di sekolah dalam menghadapi tantangan di sekolah, lebih khusus dalam proses pembelajaran, maka saya dan rekan sejawat cenderung berfokus lebih banyak berpikir berbasis masalah. 

Sehingga yang lebih banyak kami lihat adalah kelemahan, kekurangan, dan kesalahan.Mulai dari murid yang bermasalah, tidak mengerjakan tugas, tidak mampu menjawab soal saat ulangan, tingkah laku murid tidak baik, pembagian tugas tidak sesuai, sarana sekolah yang kurang memadai, dan layanan kepegawaian kurang memuaskan. sehingga menyebabkan masalah itu tidak mendapatkan solusi yang efektif bahkan mengakibatkan saya menjadi tidak bersemangat dan terbeban dalam hal itu. 

Program yang disusun dan tindakan yang akan dilaksanakan hanya mengacu pada pemecahan masalah yang ditemukan. Hal ini berdampak pada aset dan modal yang dimiliki sekolah belum termanfaatkan dengan optimal.Visi sekolah yang disusun belum bisa direalisasikan karena masih menghadapi masalah yang ditemui.Dalam modul ini saya belajar bagaimana menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan untuk mengenali dan mengidentifikasi serta memaksimalkan aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah yang dapat digunakan dalam peningkatan mutu dan kualitas sekolah khususnya dalam pembelajaran murid dan juga dalam pengembangan pendidikan di sekolah.

Concept

Pada modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya memberikan saya pengetahuan tentang sekolah sebagai sebuah ekosistem, faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah, pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset, Pengembangan Komunitas Berbasis Aset ⟮PKBA), dan tujuh aset sekolah. 

Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir. Dalam mengatasi tantangan yang ada di komunitas, pendekatan berbasis aset ini sangat baik digunakan untuk pengembangan masyarakat.Sekolah sebagai sebuah ekosistem adalah pola interaksi antara faktor biotik dan abiotik. 

Faktor biotik ekosistem sekolah adalah murid, kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, tenaga kependidikan, orang tua murid, komite sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Faktor abiotik ekosistem sekolah adalah sarana dan prasarana, serta keuangan sekolah.Pendekatan berbasis masalah akan fokus pada kekurangan, kelemahan, dan yang tidak bekerja dengan semestinya, sehingga fokusnya pada hal-hal negatif. 

Sementara pendekatan berbasis aset merupakan cara praktis menemukan dan memanfaatkan hal-hal positif dalam komunitas, kekuatan yang dimiliki, inspirasi, dan potensi yang positif.PKBA menggunakan pendekatan berbasis aset dalam mengembangkan komunitasnya, yang digerakkan oleh seluruh anggota komunitas. Tujuh modal yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah adalah modal manusia, sosial, lingkungan, fisik, politik, finansial, serta agama dan budaya.

Change

Setelah mendapatkan pembelajaran pada modul 3.2 ini, pandangan saya pada pengembangan sekolah mulai berubah. Saya tidak lagi memandang sesuatu dari sudut pandang negatif, misalnya kekurangan, kelemahan, hal yang tidak bekerja, dan masalah. Saya mulai memandang sekolah dari sudut pandang potensi, kekuatan, kelebihan, dan aset yang dimiliki. 

Pengembangan sekolah yang ramah anak, memerdekakan belajar murid, dan mengoptimalkan pengembangan. Saya menyadari bahwa materi yang dipelajari sangat bermanfaat bagi saya dalam mengembangkan pembelajaran yang berkualitas berbasis aset/sumber daya yang dimiliki sekolah. Selanjutnya saya akan berusaha menggali kekuatan/sumber daya yang dimiliki oleh sekolah melalui pembentukan komunitas praktisi dengan mendiskusikan kekuatan dan potensi aset yang dimiliki sekolah.Hal ini bertujuan untuk mengembangkan potensi pembelajaran yang berkualitas untuk murid dan pengelolaan potensi sekolah untuk meningkatkan mutu dan kualitas sekolah.

 Salam Guru Penggerak, Guru Bergerak Indonesia Maju!

Jumat, 10 Juni 2022

3.3.A.6 REFLEKSI TERBIMBING - PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 3.3.A.6   REFLEKSI TERBIMBING – PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID



1.       Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Setelah mempelajari modul ini saya mendapat pengetahuan dan juga pemahaman baru tentang bagaimana menyusun sebuah program yang berdampak pada murid, yang ternyata tidak mudah. Ada SOP yang harus dijalankan terutama dalam hal perencanaan yang menggunakan MELR yaitu monitoring, evaluation, learning dan reporting. Setelah itu barulah menganalisis manajemen resiko yaitu 5 tipe resiko.

Hal yang menarik adalah bahwa ketika kita memiliki sebuah program atau ide akan sebuah program yang akan dikembangkan di sekolah haruslah bermula dari pemetaan aset atau sumber daya di sekolah, barulah sebuah program akan lebih terarah dan memiliki tingkat kesuksesan dan keberhasilan yang tinggi. saya selama ini banyak memiliki ide atau program yang ingin saya ajukan ke sekolah namun program tersebut belum berdasarkan analiasis pemetaan 7 aset atau modal sekolah

Hal menarik lainnya adalah bagaimana pendekatan inkuiri apresiatif mode BAGJA menjadi bagian penting dalam tahapan mendesain program yang bedampak pada murid. Dalam sesi ini pemahaman saya tentang BAGJA semakin meningkat setelah sebelumnya di sesi modul 3.2 juga menggunakan model BAGJA sebagai rancangan aksi nyata.

 

2.       Apa yang mengejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

Ada beberapa pengetahuan baru yang saya dapatkan terutama dalam hal perencanaan program di sekolah, hal-hal tersebut memang sudah tidak asing lagi bagi saya, karena sering saya mendengar istilah tersebut baik di sekolah maupun di luar keseharian mengajar di sekolah. Namun, dalam sesi diklat ini saya mendapat pengetahuan yang utuh dan komprehensif mengenai bagaimana sebuah program itu disusun, dievaluasi hingga dibuat pelaporannya.

Monitoring dan evaluasi sebagai suatu aktivitas yang sangat penting untuk mendukung tercapainya suatu tujuan dari proyek atau program yang dilakukan
Dalam proses pembelajaran kali ini saya lebih memahami mengenai 12 prinsip Monitoring dan evaluasi yang disampaikan Kertsy Hobson dalam bukunya.
Learning atau pembelajaran merupakan sebuah proses refleksi yang harus dilakukan dalam sebuah program sekolah sebagai sebuah kerangka kerja pembelajaran (Learning) yang membahas aspek utama yang perlu dipertimbangkan ketika meninjau suatu pengalaman atau sebuah program. Learning ini terdiri atas empat tahapan yaitu:

  1. Fact (Fakta ): Catatan objektif tentang apa yang terjadi
  2. Feeling (Perasaan): Reaksi emosional terhadap situasi
  3. Finding (Temuan): Pembelajaran konkret yang dapat diambil dari situasi tersebut
  4. Future (Masa Depan): Menyusun pembelajaran digunakan di masa depan

 

3.       Apa yang berubah yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

Perubahan yang akan saya lakukan adalah merancang program yang berdampak pada murid sesuai dengan kriteria langkah atau prosedur yang telah saya pelajari di modul 3.3 ini yaitu menggunakan tahapan BAGJA, MELR, 12 prinsip monitoring dan evaluasi, 5 strategi desain program dan analisis manajemen resiko.

Selain itu juga saya harus melakukan pemetaan aset yang potensial di sekolah sebelum mendesain sebuah program yang berdampak pada murid, ataupun sebelum saya mengadopsi sebuah program dari sekolah lain. Karena sebuah program yang sukses di sekolah lain, belum tentu akan sukses atau sesuai untuk diterapkan di sekolah saya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menganalisis dampak program secara komprehensif untuk siswa baik dari segi keuntungan atau sisi positif maupun resiko resiko yang mungkin muncul.

 

4.       Apa yang menantang  bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?

Yang menantang bagi saya adalah bagaimana melaksanakan program atau kegiatan untuk aktivitas yang tidak sesaat tetapi berkelanjutan sehingga prosesnya perlu dikawal, didampingi oleh guru serta diawasi sehingga memberikan efek positif pada diri siswa baik ke dalam maupun ke luar, ke dalam artinya siswa berkarakter mandiri, kreatif, serta inovatif sehingga di masa mendatang siswa akan merasakan pengaruh belajar saat ini sehingga dapat memberi kebermaknaan hidup bagi dirinya.

 

5.       Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

Ada sumber dukungan yang saya miliki yakni 7 aset sekolah meliputi Manusia (siswa, guru, staff, ortu, komite dll), aset sosial, aset fisik, aset politik, aset agama/budaya, aset finansial. Ketujuh aset ini yang harus dapat dikelola untuk kemajuan sekolah hingga kesempatan belajar siswa diberikan secara luas.

Minggu, 22 Mei 2022

Aksi Nyata Modul 3.1.a.10 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


SDN Tanjungsari Kec. Panekan Kab. Magetan

Tak terasa proses pendidikan guru penggerak yang saya ikuti di angkatan 4 ini sudah sampai pada modul terakhir, yaitu modul 3. Pada kesempatan ini, dalam aksi nyata modul 3.1 dengan materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya berusaha untuk menerapkan ilmu yang saya dapatkan dalam proses pendidikan ini, khususnya untuk belajar bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat sebagai salah satu langkah menjadi pemimpin pembelajaran yang teruji. Untuk selanjutnya, saya akan memakai model 4F (Fact, Feelings, Findings, Future) untuk menjabarkan aksi nyata yang telah saya terapkan di sekolah.

Peristiwa (Fact)

 Latar Belakang

Pembelajaran di sekolah sejak masa pandemi sampai saat ini mengalami banyak tantangan. Murid yang kurang lebih 2 tahun menjalani pembelajaran secara daring ternyata mengalami berbagai kendala, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang maksimal. Pembiasaan budaya positif yang dulu sudah mulai terpupuk di sekolah, pudar sedikit demi sedikit karena kurangnya interaksi antara guru dan murid. Hal tersebut tentu saja  menjadi tantangan besar bagi para guru dan orangtua untuk mulai bersinergi dan bekerjasama memperbaiki kondisi yang ada agar tidak menjadi ancaman besar bagi pendidikan generasi penerus bangsa.

Masa Pandemi memberikan masalah baru bagi dunia pendidikan


Selain pembiasaan budaya positif yang mulai pudar, masalah yang kami alami pada saat ini adalah tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang belum sesuai dengan harapan. Hal tersebut dikarenakan pada saat pembelajaran secara daring, anak kurang mampu memahami materi karena belum terbiasa dengan sistem daring yang memang mengalami banyak kendala, baik jaringan maupun fasilitas di rumah. Oleh sebab itu, nilai yang diperoleh murid juga banyak yang masih di bawah rata rata, sedangkan untuk dapat bersaing dengan sekolah lain, tentunya kami juga harus bisa memberikan nilai yang bisa bersaing dan tidak kalah dengan sekolah lain. Tentunya hal ini menjadi dilema tersendiri bagi kami sebagai guru. Meskipun pemberian nilai adalah wewenang sepenuhnya bagi seorang guru, tapi kami tidak bisa sembarangan untuk memberikan nilai, dan nilai tersebut juga harus dapat dipertanggungjawabkan.

Alasan Melaksanakan Aksi

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka sekolah memiliki dilema etika yang harus dipecahkan, sekolah harus memiliki pilihan dalam menangani siswa yang mengalami learning loss akibat terlalu lamanya pembelajaran daring. Learning loss yang terjadi pada siswa salah satunya dalam bentuk penurunan capaian belajar siswa. Dengan terjadinya penurunan ini, apakah guru juga harus menurunkan standar nilai yang telah ditetapkan ataukah mencari cara lain agar nilai siswa tetap berada di atas KKM, agar tetap dapat bersaing dengan sekolah lain.  Selain itu pelaksanaan pembelajaran daring berdampak pada  menurunnya tingkat percaya diri dan karakter siswa sehingga dengan keadaan tersebut CGP melaksanakan aksi nyata dalam mendampingi siswa agar terentaskan dari masalahnya. Sehingga diperlukan kemampuan dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam penanganan siswa yang mengalami keadaan tersebut.

Rapat dewan guru SDN Tanjungsari

Learning loss yang dialami siswa ketika masa pandemi harus diatasi

 Hasil Aksi Nyata

Hasil aksi nyata yang telah dilaksanakan yaitu mulai melaksanakan pembiasaan budaya positif bagi siswa dan guru dengan berbagai program yang telah disusun. Beberapa diantaranya adalah dengan budaya literasi membaca setiap pagi, kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan karawitan mulai aktif kembali, piket bersama, program khatam Al Qur’an bersama secara berkala, peringatan hari besar keagamaan dan nasional dengan kegiatan yang memupuk rasa percaya diri dan mengembangkan potensi siswa, seperti kegiatan pentas seni siswa dalam rangka hari Kartini yang berlangsung sangat meriah dan siswa sangat antusias.

Agar mutu sekolah tidak merosot akibat dari masa pandemi, maka sekolah tidak akan menurunkan nilai KKM, akan tetapi dengan melakukan berbagai program penunjang nilai akademik yang dapat membantu siswa mengisi kekosongan pada masa pandemi, seperti memberikan pembelajaran yang menggunakan metode yang bervariasi sehingga murid lebih tertarik dan mudah memahami materi.

Literasi pagi 

Sabtu sehat dengan senam irama

Ekstra karawitan untuk memupuk potensi seni siswa

Selain hal tersebut, untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran, sekolah mengadakan les di luar jam pembelajaran dan mengadakan evaluasi dan remidi untuk dapat mempertahankan nilai siswa agar tetap dapat bersaing dengan sekolah lain. Guru dalam memberikan pembelajaran diharapkan memiliki inovasi agar siswa merasa tertarik mengikuti pembelajaran yang diberikan. Dukungan dari kepala sekolah dalam menangani siswa yang memiliki masalah rendahnya motivasi belajar merupakan hal yang sangat positif sehingga pengambilan keputusan yang diberikan tepat dalam menangani dan meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

Rapat komite sekolah demi program yang lebih baik

Les tambahan untuk meningkatkan kompetensi akademik siswa

Perasaan (Feelings)

Setelah melaksanakan aksi nyata modul 3.1.a.10 mengenai Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, saya awalnya sedikit merasa pesimis karena hal tersebut merupakan tugas yang tidak mudah. Akan tetapi dengan dukungan dari semua pihak, dan kolaborasi yang serasi antara guru, orangtua dan pihak terkait, ternyata hasil yang dicapai tidaklah mengecewakan. Hal tersebut sangat terlihat dari antusiasnya siswa dalam mengikuti kegiatan pentas seni pada saat perayaan hari Kartini. Setiap kelas sangat antusias untuk dalam  menampilkan kemampuan mereka, dan mereka menjadi lebih percaya diri untuk dapat tampil di muka umum. Hal tersebut membuat saya lebih bersemangat untuk memberikan yang terbaik.

 

Peringatan hari pendidikan nasional

Upacara hari PGRI 

Pentas seni memperingati hari Kartini


Pembelajaran (Findings)

Melalui pembelajaran di modul ini dan serangkaian aksi nyata yang telah ddilakukan, saya merasa bahwa seorang pemimpin harus mampu untuk membuat keputusan yang bijaksana dari berbagai permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran di sekolah. dengan pengetahuan dan pengalaman yang memadai, guru akan mampu untuk membuat keputusan yang paling tepat, terutama persoalan yang menyangkut dilema etika. Perlu adanya kolaborasi dan kerjasama pada semua pihak dalam menghadapi dilema, sehingga kita sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan akan mempertimbangkan hal-hal positif dan negatif yang berdampak pada perkembangan sekolah maupun siswa khususnya dalam pembelajaran.

 

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Peningkatan IMTAQ melalui kegiatan pondok Ramadhan


Ekstra Pramuka melatih jiwa kemandirian siswa

Perubahan (Future)

Kemampuan dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan perubahan nyata yang ada dalam diri saya sebagai calon guru penggerak (CGP), maka saya akan selalu menerapkan kolaborasi dan kerjasama pada warga sekolah untuk menentuan sebuah pengambilan keputusan yang tepat dan berdampak positif. Selain itu, adanya motivasi dan optimis yang meningkat terkait kompetensi diri dalam pengambilan keputusan. Perubahan lainnya yaitu, semakin meningkatnya dukungan dan kepercayaan dari sekolah dalam menghadapi penanganan permasalahan atau dilema etika yang telah CGP tangani, sehingga meningkatkan motivasi dan semangat menjadi agen perubahan sebagai pemimpin pembelajaran.

Demikian portofolio aksi nyata modul 3.1.a.10 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran yang telah CGP susun. Harapan saya dengan langkah-langkah pengambilan keputusan yang saya laksanakan dapat menjadi acuan dalam mengahadapi dilema etika dan bujukan moral yang terjadi di sekolah.

Prestasi SDN Tanjungsari dalam lomba FLS2N Kecamatan


Rabu, 18 Mei 2022

Jurnal Refleksi Minggu Ke-20

 Jurnal Refleksi Minggu Ke-20

Fact (Peristiwa)

Minggu ini, pembelajaran telah menginjak pada modul 3.2 Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Kegiatan pembelajaran yang pertama adalah mulai dari diri, yaitu menulisan sejauh mana pemahaman CGP tentang materi yang akan dibahas. Pada alur pembelajaran eksplorasi konsep, CGP diajak mengingat kembali tentang ekosistem, mengaitkan sekolah sebagai ekosistem, mengamati video tujuh aset dalam komunitas, membedakan pendekatan berbasis masalah dengan pendekatan berbasis aset, dan pengembangan komunitas berbasis aset. Pada eksplorasi konsep juga dilakukan diskusi kelompok secara asinkron, dimana tiap CGP menyampaikan pendapatnya tentang studi kasus, kemudian dikonetari oleh CGP lainnya. Pembelajaran ruang kolaborasi memberikan pemahaman lebih dalam mengenai pengembangan komunitas berbasis aset dan memetakan aset yang dimiliki daerah untuk pengembangan sekolah. Minggu ini, saya juga didampingi oleh Pengajar Praktik dalam kegiatan Pendampingan Individu 4. Dalam Pendampingan Individu 4 ini, saya mempraktikkan coaching kepada rekan sejawat yang memiliki masalah, dengan disaksikan oleh Pengajar Praktik.

 


Feeling (Perasaan)

Pada modul 3.2 ini, saya semakin menyadari bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran seperti yang kita harapkan, kita harus mengubah pola pikir kita ke arah yang positif. Senantiasa berbaik sangka terhadap segala potensi, aset atau modal yang kita miliki untuk dapat terus mengembangkan diri. Dengan bimbingan dari fasilitator, saya melakukan kegiatan pembelajaran dengan semangat, penuh rasa ingin tahu, dan antusias dalam setiap kegiatan pembelajaran maupun pengerjaan tugas. Adanya kegiatan coaching yang saya lakukan didampingi oleh pengajar praktik juga membuat lebih percaya diri dalam melakukan coaching kepada rekan guru maupun murid yang memerlukan bantuan.

 

Pendekatan berbasis masalah/kelemahan membuat anggota komunitas berpikir tentang masalah yang dihadapi dan kelemahan yang dimiliki. Sebaliknya, pendekatan berbasis aset akan membuat anggota kemunitas berpikir tentang apa yang dimiliki untuk dikembangkan, langkah apa yang telah dilakukan, dan bagaiana meningkatkan hasilnya. Jelaslah bahwa pendekatan berbasis aset akan membawa perbaikan dan kemajuan pada sebuah kemunitas. Pembelajaran yang didapat adalah dengan berpikir tentang aset, kekuatan, dan potensi yang dimiliki, maka tujuan pengembangan komunitas/sekolah akan berlangsung dengan baik.

Future

Dengan mempelajari pengembangan komunitas berbasis aset, saya akan menganalisis aset, kekuatan, dan potensi yang dimiliki oleh sekolah maupun yang ada di sekitar sekolah untuk dapat diberdayakan dalam pengembangan sekolah. Saya juga akan mengajak rekan sejawat memanfaatkan aset sekolah secara optimal dalam pembelajaran sehingga pengembangan potensi murid menjadi lebih optimal.

 

Demikian Jurnal Refleksi Minggu Ke-20, semoga bermanfaat.

Jurnal Refleksi Minggu ke 24 modul 3.3 Calon Guru Penggerak

Tanpa terasa, perjalanan pendidikan Calon Guru Penggerak sudah pada tahap akhir di modul 3.3.  Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid...