Jurnal Refleksi 3.2.a.10.2
Jurnal Refleksi -
Minggu 21 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Perjalanan Pendidikan Calon Guru Penggerak
sudah semakin jauh dan semakin menarik dengan materi yang sangat luar biasa. Pada
minggu ke-21 ini saya menggunakan model 4C ⟮Connection, challenge, concept, change) untuk
menjabarkan pengalaman saya mempelajari materi Pemimpin dalam Pengelolaan
Sumber Daya.
Connection
Dalam minggu kedua mempelajari modul 3.2
Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, bahwa untuk menjadi pemimpin
pembelajaran, saya harus menggunakan pendekatan berbasis aset, yaitu
mengoptimalkan aset yang dimiliki sekolah untuk mengembangkan potensi murid. Saya
terus mempelajari mengenai paradigma berpikir memandang potensi/aset sumber
daya yang dimiliki oleh sekolah.
Disini saya sebagai seorang CGP, diajarkan
bagaimana cara mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh daerah tempat tinggal
saya dan kebermanfaatannya bagi sekolah berkaitan dengan kekuatan/potensi yang
dimiliki sekolah. Dalam mengembangkan ekosistem sekolah tentunya memiliki
hambatan dan tantangan, maka kita perlu untuk melatih cara berpikir untuk
berpikir positif menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan dengan melihat
potensi yang dimiliki oleh sekolah.
Dengan bersikap optimis, memandang peluang
ditengah masalah yang dihadapi, bukan hanya cenderung pada masalah namun tetap
melihat kekuatan yang dimiliki oleh sekolah dalam mengembangkan sekolah
berbasis aset. Agar dapat menjadi coach bagi guru lain dan menjalin kolaborasi
antar guru, idealnya melihat kelebihan setiap guru yang bisa dikembangkan untuk
saling melengkapi dengan guru lain, sehingga visi memerdekakan belajar murid
bisa dilaksanakan. Dengan melihat kelebihan, potensi, dan bakat murid, saya
akan mampu mendorong murid menjadi mandiri dan mampu menjadi pemimpin.
Challenge
Dalam modul 3.2 ini materi yang disajikan
sangat menarik dan menambah saya dalam memahami potensi sekolah dengan berbasis
aset/kekuatan di sekolah. Selama ini, dalam kegiatan pembelajaran maupun
kegiatan lainnya di sekolah dalam menghadapi tantangan di sekolah, lebih khusus
dalam proses pembelajaran, maka saya dan rekan sejawat cenderung berfokus lebih
banyak berpikir berbasis masalah.
Sehingga yang lebih banyak kami lihat adalah
kelemahan, kekurangan, dan kesalahan.Mulai dari murid yang bermasalah, tidak
mengerjakan tugas, tidak mampu menjawab soal saat ulangan, tingkah laku murid
tidak baik, pembagian tugas tidak sesuai, sarana sekolah yang kurang memadai,
dan layanan kepegawaian kurang memuaskan. sehingga menyebabkan masalah itu
tidak mendapatkan solusi yang efektif bahkan mengakibatkan saya menjadi tidak
bersemangat dan terbeban dalam hal itu.
Program yang disusun dan tindakan yang akan
dilaksanakan hanya mengacu pada pemecahan masalah yang ditemukan. Hal ini
berdampak pada aset dan modal yang dimiliki sekolah belum termanfaatkan dengan
optimal.Visi sekolah yang disusun belum bisa direalisasikan karena masih
menghadapi masalah yang ditemui.Dalam modul ini saya belajar bagaimana
menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan untuk mengenali dan
mengidentifikasi serta memaksimalkan aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah
yang dapat digunakan dalam peningkatan mutu dan kualitas sekolah khususnya
dalam pembelajaran murid dan juga dalam pengembangan pendidikan di sekolah.
Concept
Pada modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan
Sumber Daya memberikan saya pengetahuan tentang sekolah sebagai sebuah
ekosistem, faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah, pendekatan
berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset, Pengembangan Komunitas Berbasis
Aset ⟮PKBA),
dan tujuh aset sekolah.
Pendekatan ini merupakan cara praktis
menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan dengan menggunakan
kekuatan sebagai tumpuan berpikir. Dalam mengatasi tantangan yang ada di
komunitas, pendekatan berbasis aset ini sangat baik digunakan untuk
pengembangan masyarakat.Sekolah sebagai sebuah ekosistem adalah pola interaksi
antara faktor biotik dan abiotik.
Faktor biotik ekosistem sekolah adalah murid,
kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, tenaga kependidikan, orang tua murid,
komite sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Faktor abiotik ekosistem
sekolah adalah sarana dan prasarana, serta keuangan sekolah.Pendekatan berbasis
masalah akan fokus pada kekurangan, kelemahan, dan yang tidak bekerja dengan
semestinya, sehingga fokusnya pada hal-hal negatif.
Sementara pendekatan berbasis aset merupakan
cara praktis menemukan dan memanfaatkan hal-hal positif dalam komunitas,
kekuatan yang dimiliki, inspirasi, dan potensi yang positif.PKBA menggunakan
pendekatan berbasis aset dalam mengembangkan komunitasnya, yang digerakkan oleh
seluruh anggota komunitas. Tujuh modal yang dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan sekolah adalah modal manusia, sosial, lingkungan, fisik, politik,
finansial, serta agama dan budaya.
Change
Setelah mendapatkan pembelajaran pada modul
3.2 ini, pandangan saya pada pengembangan sekolah mulai berubah. Saya tidak
lagi memandang sesuatu dari sudut pandang negatif, misalnya kekurangan,
kelemahan, hal yang tidak bekerja, dan masalah. Saya mulai memandang sekolah
dari sudut pandang potensi, kekuatan, kelebihan, dan aset yang dimiliki.
Pengembangan sekolah yang ramah anak,
memerdekakan belajar murid, dan mengoptimalkan pengembangan. Saya menyadari
bahwa materi yang dipelajari sangat bermanfaat bagi saya dalam mengembangkan
pembelajaran yang berkualitas berbasis aset/sumber daya yang dimiliki sekolah.
Selanjutnya saya akan berusaha menggali kekuatan/sumber daya yang dimiliki oleh
sekolah melalui pembentukan komunitas praktisi dengan mendiskusikan kekuatan
dan potensi aset yang dimiliki sekolah.Hal ini bertujuan untuk mengembangkan
potensi pembelajaran yang berkualitas untuk murid dan pengelolaan potensi
sekolah untuk meningkatkan mutu dan kualitas sekolah.
Salam Guru Penggerak, Guru Bergerak Indonesia Maju!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar