Kamis, 28 April 2022

MODUL 3.1.A.9 KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 MODUL 3.1.A.9 KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Pengaruh pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran



Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ternyata sejalan dengan paradigma yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara, yang terdiri dari ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, hingga kini masih dijadikan landasan bagi seorang pendidik untuk memenuhi tanggung jawabnya menuntun anak sesuai kodrat alam dan kodrat zaman, agar tercapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya. Menuntun di era yang serba digital ini dapat diartikan sebagai pemimpin pembelajaran yang berorientasi pada kepentingan/kebutuhan murid. Pratap Triloka diterjemahkan bahwa seorang guru dapat menjadi panutan positif bagi peserta didiknya (Ing ngarso sung tulodho) baik dari sikap dan perilaku. Selanjutnya guru menjadi motivator yang tidak mendominasi karakter anak (Ing madyo mangun karso). Kemudian guru sekaligus menjadi individu yang tak lelah memberi dukungan positif kepada muridnya (Tut wuri handayani). Pratap Triloka menekankan terjalinnya hubungan yang harmonis antara pendidik dengan peserta didiknya dalam keseluruhan kegiatan belajar mengajar, termasuk ketika pendidik harus membuat keputusan dalam sebuah permasalahan.

Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan belajar mengajar akan sangat berpengaruh pada murid. Apalagi jika berpedoman pada merdeka belajar, maka salah satu point utamanya adalah berorientasi pada kepentingan murid. Merdeka belajar harus diwujudkan melalui kolaborasi dan komunikasi yang apik antara pendidik dan murid. Murid tidak takut dalam mengkomunikasikan kebutuhannya kepada guru. Guru pun dapat menerima dengan bijak apa yang menjadi kebutuhan murid. Memang tidak semua kebutuhan murid dapat terpenuhi, namun dengan pembiasaan komunikasi yang asertif, dapat diambil keputusan yang tepat dan bebas tekanan dari pihak lain.

Pengaruh nilai nilai kebajikan  terhadap prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan

Nilai-nilai kebajikan universal sejatinya telah ditanamkan oleh orang tua sedari masih dalam kandungan ibu. Semakin tertanam kuat ketika dalam pengasuhan orang tua dan mulai memasuki lembaga pendidikan (formal dan informal). Wawasan, cara pandang, serta panutan tokoh idola sedikit banyak mulai mempengaruhi bagaimana seseorang itu meyakini prinsip-prinsip tertentu dalam hidupnya. Seorang guru pun dalam prosesnya berkomitmen untuk mengabdi di dunia pendidikan tentunya memiliki nilai-nilai positif dalam dirinya untuk dijadikan pegangan hidup. Ketika dihadapkan dengan permasalahan di kelas yang berhubungan dengan dilema etika atau bujukan moral, maka nilai-nilai tersebut akan sangat berperan dalam proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan dilakukan tidak serta merta berdasarkan intuisi semata, tetapi berpedoman pada 3 hal yaitu kebajikan universal, kepentingan murid, dan bertanggung jawab. Sehingga keputusan yang diambil memiliki kebermanfaatan yang maksimal untuk kepentingan murid dan meminimalisir resiko atau efek yang ditimbulkan.

 

 

Kaitan antara materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan tehnik coaching

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. Oleh sebab itu keterampilan coaching sangat diperlukan oleh seorang pendidik dalam membersamai muridnya untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki. Coaching merupakan proses mengaktivasi kinerja otak coachee. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat menstimulus coachee untuk berpikir secara kritis dan lebih mendalam. Coaching yang berhasil akan memotivasi coachee untuk menjadi lebih baik karena mereka merasakan potensi mereka tergali dan berkembang seiring dengan proses dan hasil dari coaching yang telah dilakukan. Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan komunikasi yang asertif. Maka dari itu sangat penting bagi guru untuk benar-benar memaknai coaching sebagai salah satu langkah menuju merdeka belajar.

Kemampuan guru mengelola emosi pribadi berpengaruh terhadap pengambilan keputusan

Ketika seorang guru dihadapkan dengan permasalahan yang kompleks (dilema etika atau bujukan moral) sangat diperlukan kesadaran diri untuk bersikap tenang dan fokus pada solusi namun tetap mengedepankan pertimbangan-pertimbangan yang detail terkait kebermanfaatan dan resiko dari setiap alternatif keputusan yang dirumuskan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Agar tetap tenang seorang guru perlu memahami betul bagaimana mengelola sosial emosionalnya. Pembelajaran sosial emosional dalam kerangka CASEL mencakup : (1) Kesadaran Diri (Self Awareness), Pengelolaan Diri (Self Management), Kesadaran Sosial (Social Awareness), Kemampuan Berinteraksi Sosial (Relationship Skills), Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making). Maka dengan kematangan sosial emosional, seorang guru diharapkan tetap tenang dalam menghadapi masalah, sehingga keputusan yang diambil tidak sebatas karena terpancing emosi namun benar-benar dipikirkan secara matang dampak yang ditimbulkan kemudian hari.

Nilai-nilai yang dianut guru mempengaruhi proses pengambilan keputusan pada masalah dilema etika

Ketika dihadapkan dengan studi kasus, seorang pendidik akan menjadikan nilai-nilai kebajikan universal yang dianutnya sebagai pedoman dalam memandang dan menelaahnya dengan bijak. Jika kasus tersebut mengarah pada bujukan moral, maka nilai-nilai kebajikan yang dianut oleh seorang pendidik otomatis akan berperan sebagai filter sehingga dapat langsung merumuskan keputusan yang dirasa memang tepat menurut norma-norma yang berlaku. Namun jika kasus tersebut mengarah kepada dilema etika, maka nilai-nilai yang dianutnya akan memegang peranan penting terhadap paradigma dan prinsip apa yang diambil. Untuk kemudian dituangkan dalam 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Sehingga keputusan yang diambil bukan karena instuisi namun lebih didasarkan pada pemikiran kritis dan dalam, yang berhubungan dengan kebermanfaatan dari keputusan tersebut, serta meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan.

Pengambilan keputusan yang tepat, berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat haruslah didasarkan pada 3 aspek penting, yaitu nilai-nilai kebajikan universal, kepentingan murid dan tanggung jawab. Dalam prosesnya, tidak semua keputusan yang diambil akan memuaskan pihak-pihak yang membawa berbagai kepentingan masing-masing. Merangkul perbedaan kepentingan itu tidaklah mudah. Maka dari itu dalam mengambil keputusan yang menyangkut dengan permasalahan dilema etika hendaknya berpegang teguh pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati, 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Perlu diingat, bahwa keputusan yang disepakati tidak serta merta akan memenuhi kepentingan banyak pihak, namun setidaknya melalui pedoman-pedoman tersebut dapat merumuskan keputusan yang didasarkan pada skala prioritas, kebermanfaatan yang dapat dinikmati oleh berbagai pihak, serta meminimalisir konsekuensi negatif yang ditimbulkan. Dengan demikian lingkungan tetap terjaga agar kondusif, aman dan nyaman.

kesulitan-kesulitan di lingkungan yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika

Kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul dalam proses pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika adalah:

1.      Rasa takut mengambil keputusan sebagai akibat dari kegagalan menyelesaikan permasalahan dimasa yang telah berlalu.

2.      Kurang jeli dalam mengidentifikasi fakta-fakta berkenaan dengan permasalahan dilema etika yang dihadapi.

3.      Kurang menajamkan pemikiran terkait dengan berbagai opsi / alternatif solusi lainnya.

4.      Timbulnya ketidaksepahaman antara pihak-pihak yang terlibat dan ikut pula membawa kepentingan masing-masing dalam permasalahan, sehingga sulit mengerucutkan perbedaan pada kata sepakat.

Dengan demikian diperlukan adanya perubahan paradigma dalam memandang dan menelaah permasalahan sesuai dengan pedoman yang berlaku, agar mempunyai kesamaan visi dan tujuan sehingga keputusan menjadi tepat.

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid

Dalam konteks merdeka belajar, pengambilan keputusan haruslah didasarkan pada 3 aspek, salah satunya yaitu berorientasi pada kepentingan murid. Kepentingan murid itu sangat beragam. Karena beragam sangat rentan bersinggungan dengan permasalahan. Jika seorang guru mampu menunjukkan kredibilitasnya sebagai pemimpin pembelajaran dengan menerapkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dikolaborasikan dengan coaching, maka peluang untuk membiasakan murid dengan paradigma merdeka belajar akan terwujud secara maksimal. Merdeka belajar sesungguhnya memberikan kesempatan bagi murid-murid untuk mengeksplorasi potensinya seluas-luasnya, melalui keberanian dalam mengemukakan pendapat secara santun, kemampuan berkolaborasi bersama teman-temannya sesuai dengan kesepakatan yang dibuat, serta keterampilan dalam mengidentifikasi dan menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Dengan pembelajaran yang sederhana namun penuh makna ini, murid-murid dapat menikmati apa itu merdeka belajar.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, pengambilan keputusan erat kaitannya dengan mempertimbangkan konsekuensi positif dan negatif yang ditimbulkan. Utamanya jika keputusan itu berkenaan dengan kehidupan dan masa depan murid-muridnya. Seorang guru akan akan dijadikan figur/idola bahkan cenderung dirindukan oleh murid-murid yang merasa nyaman ketika yang bersangkutan membersamai muridnya dalam proses pembelajaran. Setiap lakunya akan senantiasa dijadikan pedoman. Pun ketika seorang pendidik dihadapkan dalam permasalahan yang menyangkut masa depan anak tersebut, maka seorang guru pastinya akan memikirkan keputusan seperti apa yang akan diberikan kepada murid tersebut. Tentunya mempertimbangkan berbagai aspek yang orientasinya berpusat pada kepentingan murid.

Kesimpulan akhir

Kesimpulan akhir yang dapat saya tuangkan dari pembelajaran modul 3.1 ini adalah bahwa dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran erat kaitannya dengan pratap Triloka, Nilai-nilai Positif, Pembelajaran Sosial Emosional, dan Coaching. Materi-materi ini saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan dalam mewujudkan paradigma merdeka belajar yang berorientasi pada kebutuhan murid.

Seperti pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menjelaskan bahwa Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak (kodrat alam dan kodrat zaman), agar mereka dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya baik sebagai manusia ataupun sebagai anggota masyarakat. Dalam proses menuntun tersebut, seorang pendidik harus paham betul bagaimana mengimplementasikan pratap triloka dalam rutinitas kegiatan pembelajaran. Ing Ngarso Sung Tulodho mengharuskan guru untuk bersikap dan berperilaku luhur sesuai dengan nilai-nilai positif/nilai-nilai kebajikan universal karena guru adalah model / idola yang akan ditiru tingkah lakunya. Ing madyo mangun karso, menjadikan guru harus terbuka dan ikhlas dalam memberikan motivasi positif pada murid-muridnya. Tut Wuri Handayani merupakan bentuk dukungan guru terhadap perkembangan murid dalam menggali dan mengembangkan potensinya.

Sebagai pemimpin pembelajaran, menghadapi permasalahan harus disikapi dengan kemampuan diri dalam mengelola emosi. Mengelola emosi erat kaitannya dengan Pembelajaran Sosial Emosional. Pembelajaran sosial emosional dalam kerangka CASEL mencakup : (1) Kesadaran Diri (Self Awareness), Pengelolaan Diri (Self Management), Kesadaran Sosial (Social Awareness), Kemampuan Berinteraksi Sosial (Relationship Skills), Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making). Ketika tekanan dalam menyelesaikan permasalahan itu datang bertubi tubi, diperlukan Minfulness untuk tetap bersikap tenang dan rileks. Jika diperlukan dapat melatih diri dengan tehnik STOP. Sehingga kinerja otak untuk berpikir secara kritis dan dalam, tidak terpengaruh oleh tekanan dari pihak manapun.

Coaching juga berperan dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini karena dalam coaching terdapat Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat menstimulus coachee untuk berpikir secara kritis dan lebih mendalam. Coaching yang berhasil akan memotivasi coachee untuk menjadi lebih baik karena mereka merasakan potensi mereka tergali dan berkembang seiring dengan proses dan hasil dari coaching yang telah dilakukan. Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan komunikasi yang asertif. Maka dari itu sangat penting bagi guru untuk benar-benar memaknai coaching sebagai salah satu langkah menuju merdeka belajar.

Dalam proses pengambilan keputusan terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh pemimpin pembelajaran harus tetap senantiasa berpegang teguh pada 3 aspek, yaitu nilai-nilai kebajikan universal, kepentingan murid dan tanggung jawab. Terdapat 4 paradigma dalam dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Tahapan tersebut hendaknya dipahami, dikuasai dan dipertajam oleh seorang pendidik, sehingga terlatih untuk berpikir kritis dan cepat. Aspek yang tidak dapat dilupakan bahwa keputusan yang dibuat haruslah memiliki manfaat yang luas bagi murid, dan mengerucut pada paradigma merdeka belajar yang berpihak pada murid.

 

Kamis, 21 April 2022

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL - PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN


 3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran 

Tahapan Demonstrasi Kontekstual ini merupakan wadah bagi calon guru penggerak untuk menunjukkan pemahamannya mengenai keseluruhan materi dalam modul 3.1, yaitu tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam kesempatan ini, kami diberi kesempatan untuk “membumikan” materi di modul ini dengan konteks lokal yang kami hadapi. 

Terdapat empat pertanyaan pemantik yang disediakan sebagai panduan dalam menjabarkan pemahaman kami tentang modul ini. Berikut adalah pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

Belajar sepanjang hayat, seperti itulah salah satu semangat saya untuk terus belajar dan mencari pengalaman baru. Dan salah satu pandangan saya tentang ilmu adalah untuk ditularkan kepada yang lain. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang terus berkembang dan dapat berguna bagi sesama. Atas dasar itulah, saya berupaya untuk dapat berbagi dengan sesama teman sejawat. Belajar dan berbagi artinya selain belajar untuk peningkatan kompetensi diri sendiri, saya juga melakukan sesi sharing atau berbagi tentang apa yang sudah saya dapatkan baik kepada rekan-rekan guru di sekolah dan juga rekan-rekan guru di seluruh nusantara. Karena bagi saya dengan berbagi maka ilmu yang akan kita miliki akan semakin berkembang dan bertambah. Selain itu, kita juga dapat menginspirasi rekan-rekan yang lain untuk ikut melakukan apa yang telah kita lakukan. 

Adapun cara yang akan saya lakukan dalam mentransfer dan membagikan pengetahuan yang saya dapatkan dalam program guru penggerak ini adalah:

  1. Mensosialisasikan materi-materi program guru penggerak yang telah didapatkan melalui komunitas praktisi seperti dalam forum KKG, baik di  sekolah maupun dalam lingkungan yang lebih luas lagi. 
  2. Mensosialisasikan materi-materi program guru penggerak melalui tulisan-tulisan di blog yang sudah saya buat. 
  3. Mensosialisasikan materi-materi program guru penggerak melalui sosial media baik berupa tulisan maupun video yang diupload ke channel youtube, IG, facebook dll.

Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di sekolah dalam rangka mewujudkan merdeka belajar dengan pembelajaran yang berpihak kepada murid, seringkali kita dihadapkan pada situasi yang sulit dalam pengambilan keputusan. Dilema yang kita hadapi seringkali membuat kita ragu untuk memutuskan karena satu pilihan berbenturan dengan pilihan yang sama pentingnya. Untuk menghadapi situasi tersebut, tentu kita harus mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang cukup agar tidak salah dalam memutuskan sesuatu. Berikut ini adalah langkah langkah awal yang akan saya lakukan untuk memulai belajar menjadi pemimpin pembelajaran

  1. Dalam setiap pengambilan keputusan, saya akan memastikan bahwa keputusan sudah sesuai dan sejalan dengan visi dan misi yang telah kita susun dan sepakati bersama dan tidak bertentangan dengan hukum atau aturan yang berlaku. 
  2. Melakukan analisis dengan cermat terhadap situasi atau kasus yang saya hadapi disesuaikan dengan paradigma pengambilan keputusan. 
  3. Memilih salah satu atau lebih dari tiga prinsip pengambilan keputusan yang ada. 
  4. Melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, agar menghasilkan keputusan yang terbaik.

Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa?

Langkah-langkah pengambilan keputusan ini akan saya terapkan mulai saat ini, sekarang, setelah saya mempelajari modul ini. Sambil terus belajar, ketika saya dihadapkan pada situasi atau masalah yang mengandung dilema etika, saya akan menerapkan ilmu yang saya dapatkan dengan sebaik-baiknya agar dapat memutuskan secara bijaksana dan menguntungkan semua pihak. Tentu saja semua membutuhkan proses dan itikad yang baik agar dapat mencapai keputusan yang baik. Saya tidak akan ragu untuk meminta pertolongan kepada orang yang saya anggap lebih mampu, lebih cakap dan berpengalaman.

Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.

Dalam mengambil sebuah keputusan, tentu saja tidak hanya kita lakukan sendiri, akan tetapi akan lebih baik apabila kita mendengarkan masukan-masukan dari orang lain yang kita anggap bijaksana, berpengalaman dan mampu membantu kita memecahkan masalah yang kita hadapi. Di sekolah, saya akan selalu berkomunikasi dengan Kepala sekolah sebagai pemegang tanggung jawab tertinggi di sekolah, rekan sejawat sebagai tempat berbagi dan berdiskusi, Pengawas sebagai pembina dan penasehat, orangtua atau komite sekolah sebagai partner di luar sekolah, bahkan masukan dan pendapat dari siswa juga perlu saya dengarkan agar mampu memandang situasi atau masalah dari berbagai sisi.

Demikian semoga bermanfaat untuk kita semua. Salam guru penggerak! Guru bergerak, Indonesia maju.

Rabu, 20 April 2022

3.1.a.6 REFLEKSI TERBIMBING – PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 1.       Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

 

Pada modul 3.1 ini CGP mendapatkan pemahaman tentang Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Di dalamnya terdapat konsep tentang Dilema Etika dan Bujukan Moral, 4 Paradigma Pengambilan Keputusan, 3 Prinsip Pengambilan Keputusan, dan 9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan.

 

Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Ketika kita menghadap situasi dilema etika akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tangung jawab, dan penghargaan akan hidup. Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan sebagai berikut:

1.     Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.     Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.     Kebenaran lawan kesetiaan (Truth vs loyalty)

4.     Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Ada 3 prinsip yang dapat menjadi dasar berpikir ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan yang penuh tantangan pada situasi dilema etika, yaitu:

1.     Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.     Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.     Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Untuk memandu dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat dilakukan:

1.     Menentukan nilia-nilai yang saling bertentangan.

2.     Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut.

3.     Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi tersebut.

4.     Pengujian benar atau salah, yang dilakukan dalam beberapa tahap yaitu: Uji legal, Uji Regulasi/Standar Profesi, Uji Intuisi, Uji Publikasi, Uji Panutan/Idola

5.     Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

6.     Melakukan Prinsip Resolusi

7.     Investgasi Opsi Trilema

8.     Buat Keputusan

9.     Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Perlu diingat bahwa 9 langkah pengambilan keputusan ini adalah panduan, bukan sebuah metode yang kaku dalam penerapannya. Pengambilan keputusan ini juga merupakan keterampilan yang harus diasah agar semakin baik. Semakin sering kita berlatih menggunakannya, kita akan semakin termapil dalam pengambilan keputusan. Hal terpenting dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal.

 

Sembilan langkah pengambilan keputusan

Hal yang diluar dugaan yang saya dapatkan adalah: ternyata setelah mempelajari bagaimana cara cara pengambilan keputusan dalam modul ini, saya menjadi sadar bahwa ternyata keputusan yang bijaksana tidaklah kaku, tidak hanya berlandaskan pada peraturan semata, melainkan menggali segala fakta yang ada, untuk dicari pemecahan yang adil dan tepat.

 

2.       Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

 

Sebelum mempelajari modul ini, saya juga mengalami beberapa kejadian atau masalah yang dibutuhkan  pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral etika. Namun keputusan yang saya ambil ketika itu hanyalah berdasarkan naluri dan intuisi yang saya miliki serta dirasakan pada saat pengambilan keputusan, belum didasarkan kepada 9 langkah pengambilan serta pengujian keputusan seperti yang dipelajari pada modul 3.1 ini. 

Setelah mempelajari modul ini, saya merasa menjadi lebih terarah dan memiliki keterampilan untuk  mengambil sebuah keputusan dalam situasi dilema etika sesuai dengan prinsip pengambilan keputusan serta dengan terlebih dahulu melaksanakan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

3.       Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

 

Dampak dari mempelajari modul ini adalah saya mulai paham apa yang harus saya lakukan sebelum mengambil sebuah keputusan dan pertimbangan-pertimbangan apa saja yang perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengambilan keputusan.  

Bedanya dengan sebelum mempelajari modul ini adalah dulu keputusan saya buat kadang hanya berdasarkan feeling saya saja, hanya berdasarkan sudut pandang saya saja, emosi kadang malah lebih dominan dalam pengambilan keputusan saya.

Setelah mempelajarinya saya mulai paham apa yang saya lakukan dulu kurang tepat, keputusan perlu diambil dalam kesadaran penuh bukan atas dasar emosi. Dalam pengambilan keputusan juga perlu mempertimbangkan berbagai hal yang akan membantu pemecahan masalah. Keputusan yang dibuat diharapkan mampu diterima menguntungkan  kedua belah pihak nantinya.

 

4.       Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

 

Mempelajari materi ini sangat penting bagi saya sebagai seorang individu maupun dalam peran saya sebagai pendidik sekaligus pemimpin pembelajaran. Dalam hubungan dengan individu lain pastinya  selalu dihadapkan dengan berbagai konflik yang mengharuskan kita untuk mengambil sebuah keputusan yang cermat dan tepat. Keputusan yang tepat sangat diperlukan demi keberhasilan tujuan di masa yang akan datang.

Melalui modul ini saya mendapat gamabaran yang lebih jelas tentang apa yang harus saya lakukan bila menghadapi sebuah dilema dalam pengambilan keputusan. Sehingga nantinya akan menghasilkan keputusan yang tepat dari hasil pemikiran yang sadar bukan atas dasar emosi.

Rabu, 13 April 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 16 MODUL 2

 Jurnal Refleksi Minggu Ke-16

Jurnal rekfeksi minggu ke-16 ini, saya menggunakan model DEAL ⟮Description, Examination and Articulation of Learning). Berikut adalah uraian saya setelah belajar satu minggu tentang penerapan coaching di sekolah.

 

Description

Minggu ini, saya masih mempelajari Modul 2.3 Coaching. Pembelajaran yang dilaksanakan adalah Refleksi Terbimbing, yaitu memberikan refleksi atas pembelajaran yang telah dilaksanakan, meliputi pemahaman sebelum dan sesudah mempelajari modul, hal yang perlu ditingkatkan, kendala, dan upaya dalam menghadapi kendala. Pada Demonstrasi Kontekstual, saya melakukan praktik coaching bersama siswa. Untuk memantapkan pemahaman pada materi coaching, CGP mengikuti Elaborasi Pemahaman bersama instruktur. Minggu ini saya juga melaksanakan praktik pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional ⟮PSE).

 


Examination

Coaching sangat penting dalam membantu siswa menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya. Coaching bertumpu pada kemampuan coach untuk bertanya, menggali informasi dari coachee, kemudian mengajak coachee menemukan potensi terbaiknya untuk merumuskan rencana aksi dan menyepakati tanggung jawab. Sesungguhnya hal ini sudah sering  saya lakukan, hanya saja selama ini masih lebih didominasi oleh peran guru dalam memberikan tips untuk mengatasi masalah.

Untuk menyelesaikan beberapa tugas dalam modul ini, saya melibatkan siswa dan rekan guru. Dalam pelibatan siswa dan guru ini, kadangkala saya menghadapi masalah sehingga saya perlu orang lain untuk menjadi coach bagi saya. Saya tidak ragu untuk meminta rekan guru lain dalam menemukan solusi atas masalah yang saya hadapi. Di sinilah saya merasakan bagaimana peran menjadi coachee, yaitu mengungkapan masalah yang dihadapi dengan terbuka, menemukan kekuatan diri dalam menghadapi masalah, merumuskan berbagai alternatif solusi dan mengambil prioritas, melibatkan orang lain, dan berkomitmen menjalankan rencana. Pengalaman ini sangat berguna ketika nanti melakukan coaching kepada rekan guru atau siswa yang menghadapi masalah.



 

Articulation of Learning

Kegiatan yang saya laksanakan minggu ini memang menguras banyak tenaga dan pikiran. Namun, saya bersyukur bisa menyelesaikannya dengan baik. Apabila menghadapi kegiatan yang serupa di masa mendatang, saya akan mempersiapkan diri lebih awal, mengelola kegiatan dengan baik, dan berkomunikasi dengan rekan yang bisa membantu. Kegiatan minggu ini memberikan saya pelajaran bahwa dalam menghadapi masalah, kuncinya adalah komunikasi, yaitu bagaimana mendengarkan dengan aktif, bertanya dengan efektif, dan memberikan umpan balik yang positif.

TRI BUDI ASTUTI (CGP Kab. Magetan Angkatan 4)

Senin, 11 April 2022

AKSI NYATA MODUL 2.1 DAN 2.2 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DAN PSE

 Berikut ini adalah aksi nyata yang saya lakukan dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 Kabupaten Magetan. Materi yang dipelajari dalam modul ini adalah Pembelajaran Sosial Emosional dan Pembelajaran Berdiferensiasi. semoga bermanfaat.

Aksi Nyata Modul 2.1 - 2.2

Minggu, 10 April 2022

 Jurnal Refleksi Minggu Ke-15 Calon Guru Penggerak

Jurnal rekfeksi minggu ke-15 ini, saya menggunakan model DEAL ⟮Description, Examination and Articulation of Learning). Berikut adalah uraian saya setelah belajar satu minggu tentang penerapan coaching di sekolah.

Jurnal Refleksi Minggu Ke-15

Description

Pada minggu ini, saya bersama rekan Calon Guru Penggerak Angkatan 4 mempelajari materi yang sangat menarik, yaitu tentang coaching. Kami melakukan eksplorasi konsep secara mandiri, forum diskusi eksplorasi konsep, ruang kolaborasi Latihan coaching, dan ruang kolaborasi praktik coaching. Dalam eksplorasi konsep mandiri, saya membaca materi tentang konsep coaching, definisi coaching, mencermati video sang kancil dan burung hantu, video tentang komunikasi asertif, menjadi pendengar aktif, bertanya efektif, dan memberi umpan balik positif, serta coaching model TIRTA. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, di samping ada beberapa yang telah saya lakukan secara rutin. Dalam forum diskusi eksplorasi konsep, kami menjawab pertanyaan berdasarkan pengamatan terhadap videopraktik coaching model TIRTA, kemudian saling berbagi pengalaman, pendapat, saran, dan masukan. Tujuannya untuk saling menguatkan pemahaman CGP. Pada pembelajaran ruang kolaborasi, CGP didampingi oleh fasilitator dalam mempelajari kasus yang ada di sekolah, yaitu kasus antar siswa, antara siswa dengan guru, dan antara guru dengan kepala sekolah dan pengawas. Kami bergiliran menjadi coach, coachee, dan pengamat dalam mempraktikkan coaching model TIRTA secara virtual. Selain kegiatan pembelajaran di LMS, minggu ini saya juga merancang kegiatan aksi nyata untuk modul 2.2 Pebelajaran Sosial dan Emosional, yaitu melakukan praktik mengajar dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi pembelajaran sosial dan emosional.



Examination

Pengalaman yang saya dapatkan pada pembelajaran minggu ini sangat banyak dan akan sangat berguna dalam melaksanakan tugas di sekolah. Misalnya, komunikasi asertif, sangat berguna dalam memjalin hubungan dengan rekan kerja, atasan, siswa, maupun masyarakat. Dalam komunikasi asertif, saya belajar bagaimana mendengarkan lawan bicara sekaligus mengungkapkan pendapat dengan baik, santun, tanpa menyinggung lawan bicara. Teknik bertanya efektif, memberikan saya pengalaman bagaimana mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi, mengali potensi, menjabarkan rencana, dan menuntun tanggung jawab. Menjadi pendengar aktif, sangat penting untuk diterapkan dalam berkomunikasi untuk membuat lawan bicara merasa nyaman, merasa diperhatikan, sekaligus kita dapat menyimak, memahami, dan memberi respons atas hal yang diungkapkan. Respons yang diberikan akan berguna bagi lawan bicara jika diberikan dalam bentuk umpan balik positif. Semua keterampilan yang dipelajari, mendukung penguasaan pada coaching model TIRTA. Caching model TIRTA yang dilaksanakan dengan baik akan dapat membantu peserta didik mengetahui potensinya, menentukan rencana solusi dan mengambil tangung jawab. Hal ini penting dalam menjalankan peran sebagai guru yang menuntun murid guna mencapai kemandirian dalam hidup.

Koneksi Antar Materi Modul 2.3

Articulation of Learning

Setelah mempelajari coaching model TIRTA, saya tertarik untuk mencoba menerapkannya dalam membantu murid menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Coaching model TIRTA sangat berbeda dengan praktik konseling maupun mentoring yang selama ini diterapkan di sekolah. Dalam konseling, konselor berperan menggali masalah yang telah dilalui oleh klien, sedangkan dalam mentoring, mentor memberikan tips-tips mengatasi masalah berdasarkan pengalaman mentor. Sementara dalam coaching model TIRTA, coach tidak memberikan solusi secara langsung, tetapi menggali dari dalam diri coachee, potensi/kekuatan apa yang dapat dikembangkan guna menjadi solusi. Di sinilah keterampilan komunikasi dan bertanya efektif akan sangat berguna. Dalam meningkatkan kemampuan saya melakukan coaching, saya akan belajar dari rekan guru senior, kepala sekolah, rekan CGP, maupun dari media internet yang memberikan banyak contoh coaching. Saya akan mengasah kemampuan coaching, baik dengan murid maupun dengan rekan guru yang memiliki masalah. Harapannya, saya dapat membantu mereka mengidentifikasi masalah, menemukan potensi diri, merancang rencana solusi, dan komitmen dalam menjalankan rencana.

Demikian jurnal saya minggu ini, semoga bermanfaat. Salam dan Bahagia

(TRI BUDI ASTUTI, CGP KAB. MAGETAN ANGKATAN 4)

Jurnal Refleksi Minggu ke 24 modul 3.3 Calon Guru Penggerak

Tanpa terasa, perjalanan pendidikan Calon Guru Penggerak sudah pada tahap akhir di modul 3.3.  Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid...